Mobil Prototipe Karya Siswa SMK Muhammadiyah 2 Borobudur
Bermesin 1.500 CC, Berinjeksi Multi EFI
Banyak perusahaan besar, seperti PT KAI melalui PT Inka Madiun mengembangkan mobil prototip. Tetapi kali ini mobil contoh dikembangkan oleh sebuah sekolahan. Hal ini sebagai upaya mendekatkan dunia pendidikan ke dunia kerja
Frietqi Suryawan, BOROBUDUR
—
SMK Muhamadiyah 2 Borobudur berhasil menciptakan mobil prototip. Dinamakan Mobil Esemka LS
untuk yang long chasis atau tujuh penumpang dan Esemka SS (short chasis) atau lima penumpang. Tidak tanggung-tanggung, mobil ini bermesin 1.500 cc dengan 70 tenaga kuda (70 PS) bersistem injeksi multi EFI. Atau setara dengan sistem VVTi di mesin produksi Toyota atau i-Vtec di mesin Honda.
Sekilas, bila melihat mobil pengembangan mirip untuk Nissan Grand Livina untuk yang LS dan Toyota Rush yang “ditipiskan” untuk SS. Ya wajar, karena secara desain oleh pihak SMK, mobil tersebut banyak mengadopsi bentuk dua mobil tersebut. Mengingat jika muncul ke pasaran, Esemka disiapkan untuk head to head dengan dua mobil itu.
SMK Muhammadiyah 2 Borobudur memang tidak membuat sendiri mesinnya. Mereka mendapat pasokan mesin, dari SMKN 4 Jakarta yang telah bekerja sama dengan perusahaan Autocar. Baik SMK Muhammadiyah 2 Borobudur maupun SMKN 4 Jakarta, merupakan sekolah yang mendapat program bussines centre dari Dirjen Pendidikan Pembinaan SMK.
“Kami memang hanya membuat karoserinya. Untuk mesin kita dapat pasokan dari SMKN 4 Jakarta, yang sama-sama mengikuti programĀ bussines centre dari Dirjen Pendidikan Pembinaan SMK. Tapi Esemka adalah mobil prototip ciptaan kami. Sebuah mobil bisa beli ban, kaca, karet-karet dan lainnya dari perusahaan atau orang lain. Tetapi ketika keluar, bisa diklaim sebagai produk perusahaan tertentu. Begitu juga Esemka,” kata Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, Suyitno, kemarin.
Esemka dikembangkan atas pengawasan PT Magenda Magelang, yang memang membuka pabrik karoseri di sekolah tersebut. Perusahaan ini dipimpin oleh Agus Setyo, yang sudah hampir 20 tahun malang-melintang di dunia karoseri dan pemasaran mobil. Agus di sekolah tersebut menjadi guru praktik otomotif.
“Saya lulusan STM 1 Magelang, yang sekarang berubah menjadi SMK. Saya dulu murid Pak Yitno (Kasek SMK Muhammadiyah 2 Borobudur). Saat beliau memimpin sekolah ini, saya diajak bergabung sebagai guru praktik, bersama perusahaan yang saya pimpin. Karena sekarang, konsepnya siswa tidak lagi magang di perusahaan. Tetapi perusahaannya yang memang didatangkan ke sekolah,” tutur pria yang sempat bekerja di Pabrik Karoseri New Armada Magelang.
Agus bergabung pada sekolah yang baru berusia 10 tahun pada 2006. Dengan modal uang Rp 200 juta, dia membeli alat-alat perbengkelan. Kemudian sekolah tersebut pada awal tahun 2007 mendapat bantuan Dirjen Pendidikan Pembinaan SMK berupa dua unit mesin pres. “Dari alat-alat tersebut, kami telah mendapat beberapa order pembuatan bus, ambulan dan mobil double cabin. Tentunya, semua dikerjakan di sekolah ini, bersama murid-murid dan guru lain,” ungkapnya.
Selama tahun 2007-2008, SMK yang telah menggandeng PT Magenda ini mendapat order Pemprov Batam berupa enam buah bis, Pemkab Semarang (mobil double cabin), Pemkot Medan (tiga buah ambulan) dan Depkes berupa satu unit mobil dapur umum. Tahun 2008-2009 mendapat pesanan dari Pemprov Kepulauan Riau berupa enam bus karyawan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (2 bus mahasiswa) dan Universitas Maritim Raja Ali Haji Riau (2 bus).
“Dari pesanana tersebut, Dirjen Pendidikan tahu kalau kami punya unit produksi mobil. Mereka kemudian mengundang kami untuk membuat mobil SUV, yang kemudian kami namakan Esemka. Mereka hanya memberi waktu dua bulan untuk menyelesaikan prototipnya,” jelas Agus.
Awal 2009, SMK Muhammadiyah 2 Borobudur mulai membuat proposal kegiatan. Termasuk desain mobil dan jadwal pembuatannya. Mereka diminta membuat dua mobil prototip dengan dua casis berbeda. **
Radar Jogja [ Jum'at, 22 Mei 2009 ]


